Enam belas tahun yang lalu, kekacauan tengah terjadi di kerajaan Yishu hingga raja harus mengirim istrinya yang sedang hamil besar keluar istana, bersemubunyi di salah satu istana yang ada di balik pegunungan. Sayangnya, bayi itu harus lahir di tengah perjalanan. Sang ratu yang hanya ditemani oleh dayang setianya tidak tahu harus berbuat apa berhenti di sebuah rumah milik seorang tabib, tabib itu bertugas untuk membantu persalinan.
Hari itu, ada tiga wanita yang tengah melahirkan, dengan segala usaha yang telah ia lakukan, akhirnya, putri kerajaan Yishu lahir ke dunia. "Yang Mulia, ini adalah seorang putri!" Ratu Lian begitu senang. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya ia hamil lagi dan sekarang melahirkan anak perempuan. Putra pertamanya dinobatkan sebagai putra mahkota, setelah itu ia tidak lagi hamil. Hingga tahun-tahun berikutnya, para selir melahirkan pangeran-pangeran yang berbakat, tetapi mereka tidak memiliki seorangpun putri, hari ini, ia dianugerahkan seorang putri yang cantik.
"Dayang Han, berikan padaku. Aku ingin melihat wajah putriku. Karena kondisinya yang masih sangat lemah, tanpa sengaja sang ratu menjatuhkan bayi itu hingga melukai pergelangan kakinya. "Tidak apa, tidak apa. Semua baik-baik saja." Dayang Han menggendong bayi mungil itu, menghentikan tangisannya. "Ah ini, tanda ini." Dayang Han melihat bahu kanan sang putri, "putri kecil memilki tanda yang sama dengan anda, Yang Mulia. Selamat."
Dari awal kehamilan, tabib selalu bilang kandungannya sangat lemah, dan menyarankan untuk menggugurkan kandungan itu, tetapi siapa yang ingin membuang janin mereka? Sembilan bulan kemudian, bayi kecilnya lahir dengan kondisi yang tidak layak, putri kecilnya yang malang, setelah ini ia hanya akan memberikan kebahagiaan untuk putrinya.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengar pembicaraan itu. Ketika semua orang tertidur serta kelelahan, ia menukar bayi itu dengan bayi miliknya. "Putriku, hiduplah sebagai seorang putri." Orang itu meninggalkan bayi di dalam pangkuannya dan mengambil bayi yang lain.
Besoknya, seseorang dari istana datang menjemput sang ratu yang baru saja melahirkan. Sang ratu tidak sadarkan diri selama beberapa hari pasca melahirkan, sedangkan putri yang baru saja lahir dirawat oleh pengasuhnya. Hingga enam belas tahun kemudian, sang ratu tidak tahu jika bayi yang ia bawa kembali ke istana bukanlah bayi yang lahir dari rahimnya.
....
"Apa yang kau katakan?" Nyonya Shen melotot tidak percaya setelah mendengar ucapan sang suami.
"Bayi itu, Ying-er bukan anak kita. Di penghujung umurku, aku ingin mengakui sebuah rahasia yang telah aku simpan selama bertahun-tahun darimu." pria itu terbatuk-batuk di atas kasur, wajahnya pucat, "wanita yang saat itu juga melahirkan anak perempuan, dia adalah Ratu Lian. Aku menukar bayi yang dia lahirkan dengan putri kita."
Nyonya Shen terkejut, "Kau- kenapa kau melakukan itu?"
"Aku ingin putri kita hidup dengan layak." ujar tuan Shen lirih.
"Putri Lian Hua- putri yang terkenal arogan itu adalah putri kita?" tuan Shen mengangguk. "Tidak, tidak. Ying-er adalah putriku! Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan! Aku membesarkan Ying-er dari kecil, aku menyusuinya, aku memberinya makan, aku yang mengepang rambutnya pertama kali! Aku tidak akan menyerahkan Ying-er kepada Raja, Ying-er adalah putriku!"
Brak! pintu dibuka keras dari luar. Shen Ying muncul dengan nafas terengah. "Aku.. katakan, siapa orang tuaku yang sebenarnya?!"
...
"Ying-er... Ying-er... Ying-er..." nyonya Shen terisak berkali-kali, memanggil nama putrinya, sedangkan di sebelahnya, Lian Hua termenung dengan pandangan kosong. Menatap jauh ke arah jeruji kayu di depannya. Mereka akan mengirimnya ke Perbatasan, mereka bahkan tidak membiarkannya untuk pergi sendiri. Dia diseret seperti seorang kriminal ketika semua ini bukan kesalahannya.
"Ying-er ku yang malang. Mereka tidak tahu makanan kesukaannya, apa Ying-er bisa tidur dengan nyenyak di sana?"
"Daripada memikirkan wanita itu, lebih baik memikirkan dirimu sendiri. Kau akan dikirim ke Perbatasan dan 'Ying-er' mu tidak peduli." nyonya Shen mendengar ucapan Lian Hua dan memukulnya. "Kau! ini semua karena kau Ying-er pergi! Dia bahkan tidak tahu jika ayahnya sudah meninggal! Aku bahkan tidak diijinkan untuk menguburkan suamiku!"
Kedua bola mata Lian Hua terbelalak. Bagaimana wanita di hadapannya, seorang wanita yang tidak ingin ia akui sebagai ibunya sendiri memelototinya penuh kemarahan? Wanita itu menarik bajunya yang tipis, menggoyangkan tubuhnya dan terus berteriak. Putri Lian Hua tidak pernah diperlakukan seperti ini, sehingga ketika seseorang berani menyentuhnya, melukainya, ia hanya bisa terdiam dan terpaku.
Itu hanya berlangsung beberapa saat sebelum Lian Hua menjadi marah, ia meraih tangan nyonya Shen, menghempaskan tubuh kurus 'sang ibu' dengan kasar. "Kau! Beraninya kau menyentuhkan tangan kotormu itu padaku! Kau hanyalah seseorang dari kelas bawah! Kau tidak diijinkan untuk menyentuhku!" teriaknya dengan seluruh suaranya. Ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua membuat ucapannya bergema.
Dua orang wanita, saling menatap dengan mata yang memerah, Lian Hua mencoba untuk menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya, air mata kemarahan dan berbagai rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya. Tangannya mencengkram jerami di bawahnya, tidak selembut sutra yang selalu ia gunakan, tempat ini sangat buruk! Sangat buruk!
Di sisi lain, nyonya Shen yang diteriaki oleh Lian Hua menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya. Air matanya sudah habis untuk menangis, kedua matanya sembab serta wajahnya sudah sangat pucat. Ia terus terisak.
Isakan itu menyentuh dasar hati Lian Hua yang paling dalam, sayang, gadis itu tidak peduli karena menurutnya, semua ini sangat tidak adil. Dia adalah putri kerajaan ini, bagaimana bisa dalam sekejap saja dia bukan lagi anak dari Raja dan Ratu dan dikurung di dalam tempat ini? Ia harus keluar dari sini!
Adalah isi pikirannya.
Tempatnya berada sekarang bukanlah sebuah penjara tempat para penjahat dihukum. Saat ini ia berada dalam penampungan orang-orang yang akan dibuang atau diasingkan ke Perbatasan ataupun tempat lainnya. Jadi, tidak ada pelindungan yang ketat saat ini, lagi pula kabur dari tempat seperti ini sangat mudah bagi Lian Hua.
Pintu tempat mereka dikurung tidak dikunci, hanya ada satu orang penjaga yang bertugas di luar, tanpa usaha yang berat, dalam sekejap, Lian Hua sudah keluar dari tempat itu dan berkeliaran dikeramaian.
Matahari sudah terbit sejak beberapa jam yang lalu. Perutnya lapar dan tubuhnya begitu lelah, namun itu semua ia kesampingkan. Satu-satunya yang ingin ia lakukan sekarang adalah pergi mencari perlindungan. Ia memiliki beberapa teman yang tinggal tidak jauh dari sana. Para putri pejabat yang sering ia temui, ya benar, ia masih memiliki orang-orang yang akan membantunya.
Entah sudah berapa lama ia berkeliling hingga akhirnya rasa lapar diperutnya sudah tidak tertahankan lagi. Bermodal sebuah perhiasan yang masih melekat di tubuhnya, ia menukarkan perhiasan itu dengan makanan. Hingga ia sampai di tengah pasar, orang-orang berkumpul dan mengerubungi sesuatu, Lian Hua yang penasaran juga ikut mendengarkan.
"Ada apa?" tanya seorang petani di sebelahnya, Lian Hua berusaha menjauh, wajahnya menunjukan rasa jijik ketika dikelilingi orang-orang yang menurutnya hanyalah orang-orang yang tidak berguna, tidak penting dalam kehidupannya yang sangat diagungkan.
"Istana membuat pengumuman!" jawab seorang wanita pedagang.
"Pengumuman apa?"
"Kau tahu Putri Lian Hua? Dia ternyata bukan putri yang sebenarnya! Seseorang menukar putri yang asli dengan yang palsu, dan sekarang semuanya baru saja terungkap!"
"Apa?!" sorak semua orang serentak.
"Putri Lian Hua itu ternyata adalah putri palsu?!" mereka berbicara bergantian, membicarakan pengumanan yang baru saja di sampaikan oleh istana.
"Iya! Putri yang asli tinggal bersama seorang pemabuk bernama Shen. Aku dengar istrinya bekerja sebagai buruh cuci di rumah bangsawan Yuan."
"Hah! Itu sangat keterlaluan! Bagaimana bisa mereka menukar seorang putri dengan anak seorang gelandangan seperti itu? Apa raja akan menghukum mati mereka?"
"Si pria Shen sudah mati, aku dengar seluruh keluarga mereka diusir ke Perbatasan!" semua orang yang mendengarnya menahan nafas mereka.
"Di buang ke Perbatasan sama saja dengan mati."
"Mereka pantas mendapatkannya!"
"Lalu bagaiamana dengan si putri palsu itu? Apa dia juga dibuang?" semua orang penasaran dengan nasib si putri palsu, sebab, bagaimanapun raja dan ratu sudah membesarkan gadis itu selama enam belas tahun, membesarkannya seperti anak sendiri, putri sendiri. Apa Yang Mulia membiarkan wanita itu tinggal di istana?
"Tentu saja dia juga diasingkan dengan keluarganya ke Perbatasan! Aku yakin Raja dan Ratu sudah lama menunggu saat ini. Menyingkirkan gadis gila itu jauh dari kerajaan Yishu yang agung! Jika dia bukanlah seorang putri, dia bukanlah apa-apa!" wanita pedagang tersebut bercerita dengan nada serta suara yang menggebu-gebu, terlihat tengah menyimpan dendam yang dalam.
"Hah! Pada akhirnya dia juga bukan seorang putri! Aku saja bingung bagaimana mungkin Raja dan Ratu yang begitu murah hati bisa memiliki seorang putri yang mengerikan seperti itu! Baguslah dia dibuang ke Perbatasan, aku tidak perlu mendengar tentang kegilaannya lagi!"
"Kau benar! Akan lebih baik jika dia menghilang atau mati selamanya dari muka bumi ini! Nyatanya dia hanyalah seorang sampah! Aku berharap putri Ying-er adalah putri yang baik!"
"Tentu saja! Putri Ying-er terkenal dengan keramahan dan kebaikannya! Dia yang membiayai kehidupan keluarga Shen yang menyedihkan! Akhirnya kebenaran terungkap dan putri Ying-er bisa hidup bahagia. Sedangkan Lian Hua, biarkan dia membusuk di Perbatasan! Aku berdo'a agar dia mati kelaparan dan dagingnya dimakan oleh anjing liar, dicabik-cabik hingga tidak berbentuk, hingga tidak ada seorangpun yang mengenalinya lagi!"
Lian Hua tanpa sadar berjalan menjauh dari kerumunan itu. Tubuhnya menggigil mendengar semua ujaran kebencian serta sumpah serapah yang diberikan kepadanya. Mereka semua, para rakyat jelata ini, bahkan berani membicarakannya seperti ini? Dia akan memberikan hukuman gantung kepada mereka semua! Biar tubuh mereka tergantung di gerbang ibu kota, membusuk dan dimakan oleh gagak!
Masih tidak mempercayai kenyataan, dan masih menganggap dirinya adalah seorang putri, Lian Hua bergegas menuju rumah salah satu kenalannya, temannya, sehabatnya. Shi Mei adalah temannnya sejak kecil, wanita itu selalu menjadi pengikutnya, selalu mengikutinya kemanapun, dia pasti akan membantunya.
Memutar kembali ingatannya, ia akhirnya menemukan kediaman Shi Mei yang merupakan anak dari Perdana Menteri. Sebuah senyuman tercetak di wajah pucat Lian Hua, seperti seseorang menemukan cahaya kembali, ia ingin segera mengutarakan keluh kesahnya kepada Shi Mei.
Di depan gerbang rumah Perdana Menteri, banyak orang berkumpul. Para putri-putri bangsawan yang lain juga berkumpul di sana.
Lian Hua memaksa kakinya untuk berlari, ibunya bahkan tidak pernah membiarkannya menginjak tanah, dan sekarang ia harus berjalan ke sana kemari dengan kedua kakinya yang terkilir. "Shi Mei!" teriak Lian Hua, mendekat.
Kumpulan para gadis itupun menoleh ke arahnya.
.....
E.L.F
Comments
No comments yet. Be the first to say something.